Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Manusia Tinggalkan Pohon 3,5 Juta Tahun

Editor: Tri Wahono
Rabu, 2 Februari 2011 | 10:13 WIB



KOMPAS/AMBROSIUS HARTO Seekor orangutan (Pongo pygmaeus wumbii) di atas pohon di Pulau Kaja, Sungai Rungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
.
KOMPAS.com - Sebagian jenis hewan primata saat ini masih banyak yang menghabiskan waktunya di pohon seperti orangutan dan kera macaca. Namun, sebagian lainnya hidup di darat seperti gorila dan simpanse.
Manusia yang secara genetik punya banyak kemiripan dengan bangsa primata pun kini tak lagi hidup di pohon. Kalau dilihat dari jejak genetiknya, berdasarkan penelitian terbaru, nenek moyang manusia mungkin berhenti hidup di pohon sekitar 4,2 hingga 3,5 juta tahun yang lalu.
Menurut penelitian yang diterbitkan di Folia Primatologica, alasan perubahan gaya hidup itu bersamaan dengan perubahan habitat pada hutan, menurunnya temperatur, batas musim yang lebih tegas, serta pertumbuhan padang rumput.
"Dengan jarak pohon yang lebih jauh, mereka bisa menghemat energi dengan berjalan kaki," kata Gabriele Macho, pemimpin studi yang juga seorang paleoantropolog dari Catalan Institue of Paleontology, Barcelona.
Kesimpulan ini ditarik setelah Macho dan timnya menganalisis tulang pergelangan tangan dari dua hominid yang masih bersaudara, Australopithecus anamensis dan Australopithecus afarensis. Kedua hominid yang diperkirakan sebagai nenek moyang manusia itu memiliki jarak umur sekitar 600.000 tahun. Para peneliti juga menganalisis tulang pergelangan orangutan, gorila, simpanse, dan manusia sebagai perbandingan. Hominid adalah suku yang mencakup manusia dan makhluk mirip manusia yang sudah punah.
Berdasarkan hasil pemindaian CT beresolusi tinggi, para peneliti mendapati kalau spesies yang hidup di pohon, bergantungan dari pohon ke pohon, memiliki beban lebih banyak pada sisi luar, dekat dengan kelingking. Sementara, spesies yang hidup di darat memiliki beban lebih banyak di daerah sekitar ibu jari.
Tulang pergelangan A. anamensis mirip dengan spesies modern yang tinggal di atas pohon, sementara pergelangan A. afarensis serupa dengan spesies yang tinggal di darat, termasuk manusia modern. Artinya, perubahan gaya hidup ini terjadi di sekitar A. afarensis pertama kali muncul, 3,7 juta hingga 2,9 juta tahun yang lalu. Dari studi lain tentang fosil manusia awal, 4,2 juta tahun yang lalu, juga memiliki bukti yang serupa.
Temuan ini merupakan suatu pendekatan yang menyegarkan, demikian menurut profesor biologi dari University of Liverpool Robin Crompton. Ia berharap temuan ini menjadi inspirasi penelitian berikutnya sehingga berbagai misteri bisa dipecahkan. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Senin, 31 Januari 2011

Relasi Unik Kelelawar dan Kantung Semar


Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Asep Candra


Tabloid Rumah
Serangga yang terpeleset dan terjebak di dalam kantong akan dihancurkan oleh cairan sejenis asam lambung dan dihisap sari-sarinya.

KOMPAS.com — Jika selama ini kantung semar diidentikkan dengan si pemenang karena berhasil menjebak ribuan serangga, hasil penelitian ilmuwan asal Brunei Darussalam mengungkap hal berbeda. Kantung semar seolah menjadi pihak yang kalah sebab hanya menjadi toilet alias tempat kencing bagi kelelawar.
Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal Royal Society Biology Letters bulan ini. Menurut para ilmuwan, relasi antara kantung semar dan kelelawar merupakan kasus kedua yang menggambarkan relasi tanaman karnivora dan mamalia. Sebelumnya, pada tahun 2009, dilaporkan hubungan antara tikus dan tanaman karnivora.
Ilmuwan yang meneliti kantung semar ini adalah Ulmar Grafe, seorang biolog dari Universitas Brunei Darussalam. Ia meneliti spesies kantung semar raffles atau Nepenthes rafflesiana varietas elongata. Sementara spesies kelelawar yang digunakan adalah hardwicke, ditangkap di sebuah hutan rawa gambut wilayah Brunei Darussalam.
Menurut Grafe, walaupun kantung semar tampak sebagai pihak yang kalah karena dikencingi, sebenarnya kantung semar adalah yang menang. Dengan urine dan feses kelelawar, kantung semar mendapatkan nutrisi tambahan berupa nitrogen. Analisis kimia pada kantung semar raffles menunjukkan, sebanyak 33,8 persen nutrisinya berasal dari kotoran kelelawar.
Malah, peneliti menemukan, kantung semar beradaptasi menjadi toilet terbaik bagi si kelelawar. Kantung semar memiliki kantung yang tumbuh memanjang, silindris, dan berdiameter kecil. Lubang pada kantung juga sangat mendukung bagi kelelawar untuk membuang kotorannya.
Kantung semar raffles justru kurang beradaptasi untuk menjebak serangga. Jenis  ini mengeluarkan senyawa volatil (mudah menguap) yang lebih sedikit daripada jenis lain. Akibatnya, tak begitu banyak serangga yang terjebak dalam kantungnya. Jenis ini juga memproduksi senyawa pencerna serangga yang juga lebih sedikit.
Peneliti melaporkan, meski kelelawar juga memakan serangga, kompetisi antara kelelawar dan katung semar tak ditemukan. Kelelawar juga tak pernah memakan serangga yang terjebak dalam kantung semar. Relasi antara keduanya murni mutualisme, kelawar mendapat tempat untuk membuang kotoran dan kantung semar mendapar nutrisi dari kotoran.
Grafe mengungkapkan, relasi tersebut terbentuk lewat proses evolusi setelah kelelawar bertengger di kantung semar. "Penggunaan secara insidental mungkin berevolusi menjadi reguler dan eksklusif ketika tanaman merespons dengan beradaptasi. Kantung semar menjadi tempat yang lebih atraktif untuk bertengger," papar Grafe.

DNA Orangutan Berhasil Diurutkan


Editor: Tri Wahono
Kamis, 27 Januari 2011 | 17:25 WIB


KOMPAS/HERU SRI KUMORO Alifa (10 bulan), bayi orangutan (Pongo pygmaeus), bermain di luar kandang di ruang perawatan anak di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/8/2010).


KOMPAS.com - Tim ahli internasional yang dipimpin Washington University School of Medicine telah berhasil mengurutkan DNA orangutan Sumatra dan Kalimantan. Data tersebut diharapkan dapat membantu ahli-ahli konservasi menetapkan prioritas upaya penyelamatan berdasarkan kesehatan genetik hewan yang makin sedikit jumlahnya ini.
Para ilmuwan tersebut mendata sekitar 13 juta variasi DNA orangutan. Dalam penelitian yang dipublikasikan Kamis (27/1/2011) ini, terlihat bahwa terdapat keragaman genetik antara orangutan Sumatra (Pongo abelii) dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Keragaman ini sangat penting karena dapat meningkatkan kemampuan populasi terkait untuk tetap sehat dan beradaptasi dengan lingkungan.
Genom orangutan ini memberi tambahan keterangan dalam pohon evolusi dan memberikan wawasan kepada ilmuwan tentang keunikan DNA manusia yang membuatnya berbeda dari hewan ini.
"Berbicara genetik, secara rata-rata, (DNA) orangutan lebih beragam dibandingkan manusia. Kami menemukan sangat banyak keragaman baik pada orangutan Sumatra maupun Kalimantan. Namun, belum jelas apakah keragaman ini dapat dipertahankan dengan semakin meluasnya deforestasi," kata ketua tim penulis penelitian ini, Devin Locke, dari Washington University's Genome Center.
Secara keseluruhan, para peneliti menemukan 97 persen keidentikan antara genom manusia dan orangutan. Namun dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa dalam berbagai hal genom orangutan berkembang lebih lambat daripada genom manusia.
Genom mirip dengan sebuah buku instruksi untuk menciptakan dan mempertahankan spesies tertentu. Sementara itu, kromosom adalah bab-bab dalam buku tersebut. Dalam setiap bab ada paragraf, kalimat, kata huruf, yang ibaratnya urutan DNA suatu makhluk hidup.
"Jika anda mengedit sebuah buku dalam komputer, Anda dapat menandai sebuah paragraf, menyalin (copy) dan menempel (paste), menghapus, atau mengubahnya. Duplikasi, penghapusan, dan pengubahan DNA adalah tipe variasi struktur. Saat kami melihat genom manusia dan simpanse, kami melihat percepatan perubahan struktur sepanjang sejarah evolusi. Tapi, entah karena apa, orangutan tidak berpartisipasi dalam percepatan itu," ujar Richard K. Wilson, direktur Washington University's Genome Center yang mengetuai proyek peneilitan ini.
Menurut Locke, kurangnya elemen Alu, regangan DNA yang membuat sekitar 10 persen genom manusia, yang jadi penyebab. Alu dapat terbentuk di tempat-tempat tak terduga dalam tubuh manusa untuk menciptakan mutasi atau penyusunan kembali genetik.
Genom manusia memiliki sekitar 5.000 Alu spesifik. Simpanse memiliki sekitar 2.000. "Dalam genom orangutan, kami hanya menemukan 250 Alu baru dalam rentang waktu 15 juta tahun. Ini adalah hal paling mungkin untuk menjelaskan kestabilan struktural dalam genom orangutan," tutur Locke.
Penelitian baru ini juga menunjukkan orangutan Sumatra dan Kalimantan berpisah pada sekitar 400.000 tahun lalu. Perkiraan sebelumnya memperkirakan perpisahan spesies ini terjadi pada sekitar satu juta tahun lalu.
Studi terhadap orangutan sangat penting karena hewan-hewan ini berada dalam ancaman besar kerusakan ekologi. Jumlah orangutan terus menurus seiring perambahan manusia ke habitat mereka. Saat ini, hanya sekitar 50.000 orangutan Kalimantan dan 7.000 orangutan Sumatra yang masih hidup di alam bebas.
"Orangutan menghabiskan 95 persen waktu mereka di pepohonan. Mereka berkelana melalui pohon, bersarang di pohon, dan mengumpulkan makanan di pohon. Semua diversitas genetik di dunia tidak dapat menyelamatkan mereka di alam liar jika habitat mereka dirusak," pungkas Locke. (National Geographic Indonesia/Raras Cahyafitri)

http://sains.kompas.com/read/2011/01/27/17251594/DNA.Orangutan.Berhasil.Diurutkan